KOMENTAR: Lihat analisis YBOP
Grubbs, Joshua B., Jennifer T. Grant, dan Joel Engelman.
Kecanduan dan Kompulsif Seksual (2019)
Abstrak
Saat ini, komunitas ilmiah belum mencapai konsensus mengenai apakah seseorang dapat menjadi kecanduan atau kompulsif dalam penggunaan pornografi. Meskipun demikian, sejumlah besar orang melaporkan merasa bahwa penggunaan pornografi mereka tidak terkendali atau di luar kendali. Sementara penelitian sebelumnya mempertimbangkan perasaan kecanduan yang dilaporkan sendiri melalui skala tidak langsung atau pengukuran dimensional, penelitian ini meneliti apa yang mungkin menyebabkan seseorang secara khusus mengidentifikasi diri sebagai pecandu pornografi. Konsisten dengan penelitian sebelumnya, hipotesis yang telah didaftarkan sebelumnya memprediksi bahwa religiusitas, ketidaksetujuan moral, dan penggunaan pornografi harian rata-rata akan muncul sebagai prediktor yang konsisten dari identifikasi diri sebagai pecandu pornografi. Empat sampel, yang melibatkan pengguna pornografi dewasa (Sampel 1, N = 829, usia rata-rata = 33.3; SD = 9.4; Sampel 2, N = 424, usia rata-rata = 33.6; SD = 9.1; Sampel 4, N = 736, usia rata-rata = 48.0; SD = 15.8) dan mahasiswa (Sampel 3, N = 231, usia rata-rata = 19.3; SD = 1.8), dikumpulkan. Di ketiga sampel tersebut, jenis kelamin laki-laki, ketidaksesuaian moral, dan rata-rata penggunaan pornografi harian secara konsisten muncul sebagai prediktor identifikasi diri sebagai pecandu pornografi. Berbeda dengan literatur sebelumnya yang menunjukkan bahwa ketidaksesuaian moral dan religiusitas adalah prediktor terbaik dari perasaan kecanduan yang dilaporkan sendiri (diukur secara dimensional), hasil dari keempat sampel menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki dan rata-rata penggunaan pornografi harian adalah yang paling kuat terkait dengan identifikasi diri sebagai pecandu pornografi, meskipun ketidaksesuaian moral secara konsisten muncul sebagai prediktor yang kuat dan unik dari identifikasi diri tersebut.